PVMBG Pasang CCTV Pantau Aktivitas Gunung Aktif

Api melalap hutan dan lahan di Desa Dukuh yaitu di lereng Gunung Agung, Karangasem, Bali, Senin (21/10/2019). Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi sekitar pukul 08.30 wita tersebut berada di ketinggian 1.300-1.600 Mdpl dan sulit dijangkau oleh petugas BPBD Karangasem sehingga api terus meluas di kawasan yang jauh dari permukiman warga. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/nym/ama.


Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memasang Closed Circuit Television (CCTV) di sejumlah gunung berapi aktif yang tersebar di Indonesia. CCTV itu dipasang guna memudahkan PVMBG memantau aktivitas gunung tersebut termasuk masyarakat melalui situs resmi.

“Kita akan memantau secara langsung dan publik bisa melihat langsung karena ada link-nya,” ujar Kepala PVMBG Kasbani kepada wartawan di gedung Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta Timur, Senin (30/12).

Ia menuturkan, pada Ahad (29/12), CCTV ditambahkan di puncak Gunung Agung, Bali, di ketinggian 3.142 meter dari permukaan laut. Petugas mendaki selama delapan jam terlebih dahulu.

Pemasangan CCTV ini untuk memantau langsung segala aktivitas permukaan kawah secara terus menerus dan berkelanjutan. Masyarakat pun bisa ikut memantau kawah Gunung Agung melalui website maupun aplikasi MAGMA Indonesia yang dapat diunduh melalui playstore.

Selain itu, kata Kasbani, CCTV juga telah dipasang di Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda. Tak hanya kamera pengawas, beberapa peralatan seperti Sistem Pemosisi Global atau GPS dipasang untuk memantau gunung berapu termasuk seismometer dan tiltmeter.

“GPS itu untuk mengetahui deformasi gunung, untuk mengetahui kembang kempisnya gunung, kalau dia itu membengkak kelihatan, kalau membengkak hati-hati,” kata Kasbani

Kasbani menambahkan, Indonesia memiliki 127 gunung berapi aktif, ada 69 gunung yang dipantau terus menerus dengan menempatkan pos pemantauan. Sementara dari itu semua, ada sekitar 20 gunung yang pernah meletus berada di atas rata-rata normal yakni di level dua sampai empat dan diperkirakan terus berlangsung seperti itu pada tahun 2020.

“Ini rata-rata dalam satu tahun 20-an, yang tahun ini 21 (gunung). Kejadian itu biasa, 21 gunung yang berada di atas normal artinya dia di level 2, 3, 4. Tapi level 4 kan tidak ada sekarang,” jelas dia.

Kemudian, di antara 20 gunung itu, Gunung Krakatau yang berada di dekat perairan atau laut sedangkan yang lainnya berada di darat. Akan tetapi, menurut Kasbani, ancamannya tidak terlalu besar karena aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau sejauh ini dalam fase membangun sehingga erupsinya pun kecil.

“Dia secara ancamannya hanya dua kilometer, itu saja. Tapi kalau menyebabkan tsunami, tsunami itu kan harus disebabkan oleh, salah satunya oleh gempa, gempa tektonik sudah biasa. Kalau yang disebabkan gunung itu harus erupsi besar, atau terjadi longsoran,” jelas Kasbani.

“Sejauh ini kan dia gunungnya masih agak pendek, jadi potensi untuk terjadi tsunami kalau yang disebabkan longsor untuk yang di gunung itu barangkali relatif kecil kecuali yang di dasar-dasar gunungnya yang kita tidak tahu,” lanjut dia.

Ia menyebutkan, 21 gunung itu beberapa diantaranya Gunung Sinabung, Gunung Agung, Gunung Karangetang, Sulawesi Utara yang berada di level tiga. Sedangkan yang ada di level dua seperti Gunung Kerinci, Gunung Merapi, Gunung Anak Krakatau, Gunung Bromo, Gunung Ibu Maluku Utara, Gunung Slamet, Gunung Sangeangapi, Gunung Dukono, dan Gunung Gamalama.

“Gunung-gunung ini yang 69 terpantau dengan sangat baik, apa lagi yang 21 gunung ini terpantau sangat baik. Jadi tidak perlu ada kekhawatiran, ada perubahan-perubahan aktivitas tentu akan kami evaluasi apakah dia ada peningkatan, penurunan ancaman, itu nanti sesuai levelnya dia, dia akan berbeda,” ungkap Kasbani.

 

Sumber : https://nasional.republika.co.id/

Info CCTV

Comments are disabled.